Bagi Kamu yang Sering Memar Padahal Tidak Terbentur, Hati-hati Bisa Jadi Disebabkan Oleh Hal Lain Seperti Berikut Ini

Sering menemukan memar pada tubuh meskipun kamu yakin tidak mengalami benturan sebelumnya? Waspadai, karena sejumlah masalah kesehatan menujukan gejala dengan lebam kebiruan yang muncul tiba-tiba.

Dikutip dari The Health Site, Jumat (23/2/2018), berikut ini adalah kemungkinan yang melatarbelakangi memar pada tubuh seseorang. Periksakan diri ke dokter untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.

1. Defisiensi nutrisi

Kekurangan nutrisi tertentu bisa menimbulkan memar mengingat fungsi mereka dalam pembekuan darah dan penyembuhan luka. Nutrisi tersebut di antaranya vitamin K yang membantu darah menggumpal dan merupakan komponen penting dari struktur tulang.

Kekurangan vitamin C yang penting untuk sintesis kolagen dan senyawa lain juga berdampak pada memar. Senyawa yang ada dalam vitamin C membantu kulit dan pembuluh darah untuk mencegah memar. Oleh karena itu, kekurangan vitamin C dapat membuat penyembuhan memar menjadi lebih lama.

Mineral seperti zinc dan zat besi merupakan mineral penting yang membantu penyembuhan luka. Selain itu, kekurangan zat besi menyebabkan anemia, yang merupakan juga penyebab umum memar. Tidak terlupakan, adalah bioflavonoid yang sangat berharga dalam menyembuhkan memar. Senyawa ini dapat diperoleh melalui makanan seperti buah jeruk, mosambi, biji wijen, bit, dan pisang.

2. Penuaan

Seiring bertambahnya usia, tubuh mulai mengalami perubahan, salah satunya menjadi lebih mudah untuk mengalami memar-memar. Memar yang konstan di bagian belakang tangan dan lengan umum terjadi pada orang dewasa yang lebih tua. Memar ini, yang dikenal sebagai purpura aktinik, bisa dimulai dengan bercak merah yang berubah keunguan dan kemudian perlahan memudar. Jenis memar ini terjadi karena dinding pembuluh darah menjadi lemah sejak bertahun-tahun terpapar sinar matahari. Aspirin, coumadin, dan alkohol, dapat memperburuk kondisi ini.

3. Von Willebrand

Von Willebrand adalah penyakit keturunan sangat umum dari kelainan darah. Orangtua yang mengidap penyakit ini bisa dipastikan anaknya akan mengalami penyakit serupa. Penyakit ini mempengaruhi kemampuan darah untuk membeku. Penderita penyakit ini akan mengalami kesulitan menghentikan pendarahan saat terluka atau cidera. Ada 3 jenis penyakit ini, tipe 1, tipe 2, dan tipe 3.

Gejala dan tanda penyakit ini berupa, sering mimisan, mudah memar, pendarahan pada gusi, menstruasi berkepanjangan, darah dalam tinja atau urine, serta luka yang sulit untuk mengering.

4. Hemofilia

Jumlah trombosit rendah akibat gangguan perdarahan seperti thrombotic thrombocytopenia purpura (TTP) atau idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP) juga dapat mempengaruhi kemampuan tubuh untuk membentuk gumpalan darah secara normal sehingga meningkatkan kemungkinan memar.

Di samping itu, hemofilia juga memiliki gejala yang serupa. Kelainan pendarahan ini menyebabkan protein yang diperlukan untuk membentuk pembekuan darah tidak ada atau jumlahnya sangat sedikit. Karena itu, hemofilia yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya ini sering menimbulkan lebam.

5. Sedang dalam pengobatan

Pengobatan kanker atau kemoterapi mengakibatkan trombosit darah menjadi rendah (di bawah 400.000). Karena produksi trombosit yang kurang, seseorang bisa lebih sering mengalami memar pada tubuh.

Obat lainnya seperti warfarin dan aspirin mencegah penggumpalan darah sehingga membuat seseorang rentan memiliki memar. NSAID seperti ibuprofen, kortikosteroid seperti kortisol atau prednison, juga memberikan dampak yang sama.

Suplemen alami seperti ginkgo biloba, minyak ikan, dan bawang putih, bila digunakan secara berlebihan ternyata dapat menyebabkan memar pula. Namun, ini hal ini jarang terjadi.

%d bloggers like this: