Magelang Hujan Es, Begini Penjelasan BMKG

Magelang termasuk satu dari sekian banyak kota di Indonesia yang diguyur hujan pada hari Rabu (24/1) siang kemarin. Namun yang sedikit berbeda dan menarik perhatian banyak orang, Magelang ternyata diguyur hujan es walau kejadiannya berlangsung cukup singkat.

Dari informasi yang beredar, hujan es ini terjadi paling besar di kawasan Mertoyudan. Ukuran es batu yang jatuh pun rata-rata seperti kerikil atau sebesar jempol, karena itu sempat terdengar bunyi berisik seperti kretek-kretek saat terjadinya hujan es.

Meski cukup menyita perhatian, hujan es di Magelang ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang aneh dan sudah cukup lumrah terjadi. Dikutip dari Kompas.com, pihak BMKG menjelaskan bahwa hujan es adalah fenomena alamiah yang memang kerap terjadi ketika musim pancaroba. Hujan es pun bisa diprediksi dengan terjadinya beberapa indikasi seperti perubahan suhu udara sejak sehari sebelumnya.

“Kejadian hujan lebat/es disertai kilat/petir dan angin kencang berdurasi singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi/pancaroba musim, baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya,” ujar  Hary Tirto Djatmiko dari BMKG.

“Udara terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (lebih dari 4.5 derajat celcius) disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (lebih dari 60 persen).”

“Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba–tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita,” lanjutnya. “Jika dalam 1-3 hari berturut–turut tidak ada hujan pada musim transisi, maka ada indikasi potensi hujan lebat/es yang pertama kali turun diikuti angin kencang.”

%d bloggers like this: